Hari-hari ajaib #4
Salah satu pekerjaan yang tingkat kesulitannya berada pada dua kubu yang saling bertentangan, bagi saya, adalah memberi nama. Hal tersebut bisa saja sangat mudah tetapi bisa sangat menyulitkan. Tergantung keadaan tentunya.
Pertengahan tahun 90-an, saya baru saja menginjak bangku sekolah menengah pertama, saya ingat, orangtua saya membawa dua ekor kelinci putih sepulang dari Rajamandala. Dan saya diberi kewenangan dan tanggung jawab untuk mengurusnya. Saya senang sekali akan hal itu. Hal pertama yang saya lakukan adalah memberi nama, agar mereka saling mengenal dan tidak bingung dengan identitasnya.
Kebetulan pada saat bersamaan, saya sedang gandrung-gandrungnya dengan The Beatles. Kegandrungan itu mengejawantah dalam berbagai hal: mulai dari mendengarkan lagu-lagunya tiap hari, menandai buku-buku dengan tulisan The Beatles dan yang paling wajib, tentu saja meniru model rambutnya yang keren itu. Ya, anda tak salah baca. Coba bayangkan ketika seorang anak usia 12 tahun berambut (yang saat itu saya yakin adalah) ikal, memaksakan diri untuk memiliki rambut seperti The Fab Four. Hasilnya tentu saja menggelikan, jika dilihat dari kacamata saya hari ini. Tapi dahulu, merasa keren saja tuh. haha.
Dan oleh karenanya ketika mencari nama bagi dua ekor kelinci itu pun saya tidak sulit. Ya, langsung saja saya beri nama dengan dua anggota Beatles paling terkenal, duet pencipta lagu terbaik dalam sejarah musik dunia: John dan Paul. Sempat terpikir juga apakah saya kurang adil terhadap dua yang lainnya yaitu George dan Ringo. Tapi biarlah, tukas saya kala itu, jika ada binatang peliharaan lain, akan saya beri nama mereka.
(Beberapa saat kemudian saya memiliki seekor musang yang saya beri nama George. Dan rekam jejak saya dalam memelihara binatang pun terhenti, jadi nama Ringo belum pernah saya pakai untuk menamai binatang peliharaan. Aduh, kang Ringo, hapunten nya...)
Tuh kan, sangat mudah memberi nama.
Pula ketika saya memelihara 4 ekor bebek di mess tempat saya bekerja sekarang. Saya namai mereka seketika: Muhamad Abdurohim, Imron, Panji dan Steve. Dua nama terakhir adalah saran dari Wempy ketika saya mintai keterangan mengenai isu yang berhembus bahwa jika kita memelihara bebek, maka akan mengundang datangnya ular.
Wempy menjawab: ‘Ah ceuk saha ok, moal‘. (Ah, kata siapa ok, ga akan)
‘Nyaanan euy?’ (Beneran?) saya bertanya lagi.
‘Moal oray hungkul, biawak oge bisa‘, (Ga akan hanya ular, biawak juga bisa) demikian jawab wempy.
Anjrit…saya pikir. Tapi wempy lalu menyarankan: ‘Bere ngaran Panji atawa Steve Irwin we ngarah orayna sieuneun, teu ngaganggu‘. (Beri nama Panji atau Steve Austin saja, agar ularnya takut, jadi tidak akan mengganggu).
Wow, ide brilian ujar saya. Nuhun ah wem. Dengan begitu si ular ataupun biawak akan segan ketika mengetahui bahwa dari kalangan bebek itu ada Panji (tentu saja maksud saya mengacu pada acara televisi Petualangan Panji) dan mendiang Steve Austin yang bersahabat dengan berbagai jenis binatang. Dan permasalahan ular dan binatang lainnya sebagai predator dari si bebek sudah dapat diatasi.
Sebenarnya saya ingin menamai salah satu bebek itu dengan nama Ahmad Jaelani. Tapi dipikir-pikir, kosama persis dengan namanya Ajay. Akhirnya saya urungkan niat itu ga enak ah, kasihan. Kasihan bebeknya.
Sekarang beralih ke bagian sulitnya.
Pemberian nama anak merupakan salah satu hal yang kerap menjadi bahan diskusi antara saya dan istri saya, bahkan bertahun-tahun sebelum kami menikah, ketika masih menjalani masa pacaran. Diskusi hal ini sering berujung pada saling ngambeknya kami berdua. Hal itu sering terjadi. bahkan ketika memasuki jenjang pernikahan pun, kami belum bisa membereskan hal ini.
Saya ingin nama saya unik misalnya untuk nama laki-laki Haji Hasan Mustopa. Ya, dengan kata ‘Haji’ di depannya. Loh? memangnya sudah menunaikan ibadah haji? Ya, belum. Tapi terdengar sangat keren. Kemudian saya menjadi bingung jika nanti anak saya menunaikan ibadah haji dan berhak menyandang gelar Haji di depanya. Namanya Jadi Haji Haji Hasan Mustopa. Tuh, aneh kan?
Nama lainnya yang terpikir adalah Binti Fiki Abubakar. Tentu saja jika anaknya perempuan. Tapi jadi aneh lagi. Kalau gitu berarti anak saya tidak punya nama, hanya keterangan bahwa dia anaknya saya. Lagipula jika nanti pas pernikahan atau acara tertentu, pasti akan sedikit pusing untuk menulis Binti Fiki Abubakar Binti Fiki Abubakar. Loh? Ko ditulis dua kali? Memang siapa namanya? Terus kenapa ga ditulis Binti Fiki Abubakar kuadrat saja agar menghemat kertas. Tuh kan. Belum apa-apa sudah rada riweuh. Ya sudahlah.
Hingga satu waktu, bertepatan dengan sedang sering-seringnya saya mendengarkan lagu keren dari Eric Clapton :’Layla’ versi akustik, yang awalnya dimainkan oleh Clapton bersama Derek and Dominos, saya membaca sebuah berita di Koran Tempo, kisah seorang siswi di Perancis yang nyaris dikeluarkan dari sekolahnya.
Dia bernama Layla Levi, wanita Yahudi-Muslim yang bermasalah dengan sekolahnya ketika Perancis memberlakukan larangan untuk menunjukan simbol agama di muka umum. Termasuk jilbab bagi orang Muslim. Sebagai seorang muslim berjilbab, tentu saja hal itu membingungkan baginya. Tapi dia memiliki solusi kreatif, dia tanggalkan jilbab tradisional dan mengenakan pakaian yang sangat umum dipakai orang Perancis (yang memiliki Paris sebagai salah satu pusat mode) tapi masih menutupi aurat. Sekolah tetap melarangnya dan mengancam mengeluarkannya, tapi dia bertahan dengan hal itu dan bersikukuh menyatakan bahwa pakaian yang dia pakai bukan simbol agama, tapi hal-hal yang umum yang kebetulan saja dapat menutup aurat. Wah, saya pikir hebat sekali dia. Berpijak pada yang benar, teguh pendirian dan berani melawan dengan cerdas.
Ya, akhirnya saya menemukan nama yang ‘kena’: Layla Levi. Maka, pada saat kehamilan, saya kembali mengingatkan kisah itu pada istri saya. Istri saya setuju. Dan persoalan pun muncul kembali mengenai nama belakangnya untuk menjadikannya 3 kata. Entah kenapa, walaupun nama saya dan istri saya hanya terdiri dari dua kata, saya lebih sreg jika nama anak saya terdiri dari 3 kata. Salah satunya mungkin pengaruh informasi yang menyatakan bahwa mulai 2010, untuk berangkat ke daerah Timur Tengah, nama tercantum di paspor haruslah 3 kata. Dan perburuan pun berlanjut.
Sempat terpikir untuk memberi nama akhir dengan Abubakar, sesuai nama belakang saya. Tapi hal itu urung dilakukan untuk alasan yang sulit saya jelaskan. Akhirnya istri saya terpikirkan nama ‘Althafunnisa’yang artinya kira-kira wanita yang lemah lembut. Nama dan artinya bagus, tapi sempat ada sedikit rasa ragu dalam hati.Dan ‘ngambek-ngambekan’ ala pacaran ABG pun kembali terjadi.
Keraguan itu mendadak hilang saat saya mengingat betapa egoisnya saya, bahkan untuk sepucuk nama yang istri saya sukai pun, saya masih menyisakan rasa ragu. Bukankah istri saya yang mengandung selama 9 bulan? dan dia pun yang bk-ngambekan’ ala pacaran ABG pun kembali terjadierjuang keras dengan penuh kesakitan untuk melahirkannya? Sepertinya tidak adil jika dia tidak diberi hak bahkan hanya untuk sekedar menentukan nama belakangnya. Bukankah tanpa banyak tanya pun istri saya menyetujui nama yang saya ajukan sebelumnya? Lagipula, namanya bagus juga, pun artinya.
Dan akhirnya itulah nama bidadari saya: ‘Layla Levi Althafunnisa’. Arti dan maknanya bisa dilihat dari jalinan cerita di atas.
Nama adalah doa dan harapan. Saya lupa dari mana kalimat itu berasal. Dan sepertinya bukan hanya berlaku bagi si anak, tetapi yang terutama adalah bagi kita selaku orangtua. Apakah mungkin kita mengharapkan anak kita menjadi anak sholeh/ah sedangkan kita selaku orang tuanya mencontohkan untuk tidak mengikuti hati nurani? Apakah tidak konyol seandainya kita berlaku tidak sesuai norma sedangkan kita memaksa si anak untuk menjadi orang yang berbudi pekerti luhur? Dan mungkinkah anak kita menghayati sifat-sifat Tuhan sedangkan sikap dan perilaku kita pun tidak mencerminkan orang yang berTuhan?
Ibu, Papap, bahkan Malin Kundang pun rasanya dalam beberapa hal masih jauh lebih sholeh dari kakang. Mohon doa restunya agar dapat menjadi orangtua yang baik sepert halnya Ibu Papap…
Hari-hari ajaib #3
Saya harus memastikan dahulu bahwa benar itu adalah istri saya yang menempati bagian tengah dari ruangan pasca bersalin itu. Saya tak mau, kejadian saat kuliah ketika kami dengan sok tahunya memasuki suatu ruangan dengan agak rusuh sebelum kami sadar bahwa pasien yang kami tuju ada di ruangan sebelahnya. Dan tentu saja itu membuat sewot si pasien dan keluarga yang sedang menungguinya.
Kamar itu dibagi menjadi 3 bagian. Bagian tengah lebih sempit dibandingkan dua ruangan yang mengapitnya. Paling ujung, sebelah kiri pintu masuk, dekat jendela terdapat satu kamar mandi. Sehingga yang paling luas tentu saja adalah ruangan sebelah kanan pintu masuk. Oya, masing-masing bagian dipisahkan gorden berwarna hijau khas rumah sakit.
‘Ade….’ panggilku setengah berbisik sambil menyibak gorden untuk mengintip ke dalam. Dan sebelum dia sempat membalas, mata kami sudah saling bersitubruk diiringi senyum yang mengembang. Ah, senyumnya manis sekali, seperti tak terpancar rasa lelah sisa kurusetra-nya dengan rasa sakit yang amat sangat semalam. Dia terlihat sangat cantik dengan setelan rumah sakit yang warnanya senada dengan tirai pemisah antar ruangan.
Oya, entah kenapa saya selalu berpendapat bahwa fase dimana seorang wanita terlihat sangat cantik adalah saat kehamilan dan sesaat setelah melahirkan. Mungkin karena aura kewanitaannya tampak sangat dominan saat itu atau entah karena alasan apa. Dan istri saya berada dalam salah satu fase itu sekarang.
Saya masuk ke ruangan itu, mendekatinya dan mencium keningnya. Saya perhatikan perutnya yang sudah mengempis dan sempat heran juga selama sepersekian detik sebelum disadarkan bahwa ada sosok lain di antara kami: si bidadari. Sedang terlelap di keranjang dorong kecil di samping tempat tidur, dia tampak tidak terlihat berusaha beradaptasi dengan lingkungan barunya. Dia sepertinya tenang-tenang saja.
Saya sempat kaget melihat ukurannya, karena walaupun dia ditekuk dan dilipat sedemikian rupa, sepertinya volumenya lebih besar dari ukuran pertambahan volume perut istri saya ketika hamil. Tapi kata orang memang seperti itulah adanya: bayi akan mengembang ketika dia keluar dari gua garba dan menghirup udara bebas pertamanya. Tiba-tiba saya teringat orang-orang yang mempunyai ukuran badan di atas rata-rata dan bertanya apakah mereka terlalu dalam ketika menghirup udara pertamanya sehingga mengembangnya badan mereka lebih besar dari yang lain? atau bagaimana? ah sudahlah…tak perlu saya pikirkan lagi.
Saya masih belum puas memandang wajah si bidadari dan mulai mendekatkan wajah ke keranjang untuk melihatnya lebih jelas. ‘Banyak yang bilang mirip kamu‘ ujar istri saya. Saya hampir terbahak saat mendengarnya. Jujur, saya rada sulit melihat kemiripan seseorang dengan yang lainnya. Oleh karenanya saya selalu merasa bingung dengan pendapat orang yang menyatakan ada kemiripan saya dengan Giring-nya Nidji. Seperti kembar, mungkin kembar sial. Tapi dalam hati saya lebih merasa (atau ingin?) mirip dengan Ferdi Hasan. hahaha
Oya, Astaghfirullooh…saya harus ber-istighfar memohon ampun untuk hal ini. Saya hampir lupa untuk memperhatikan bagian terpenting yang pasti akan banyak orang tanyakan : rambut. Rambutnya tidak keriting (ya, silakan baca kribo), tetapi lurus seperti ibunya. Saya tersenyum sendiri sebelum disadarkan oleh satpam dalam hati yang seolah memukul saya dengan pentungan sambil menatap dengan pandangan yang seperti menyatakan: ‘hei, ingat, waktu kecil kan rambutmu lurus juga!‘. Saya hanya balik menatap satpam itu sambil memaki dalam hati ” ‘anyeeeeeng‘.
‘Boleh saya menggendongnya?’ tanya saya pada istri saya. Ia hanya mengangguk dan beranjak untuk mengambil si bidadari dari keranjangnya. Saya menuju kamar mandi setelah memutuskan untuk mencuci tangan dan bersalin baju. Saya tak mau anak saya menghirup bau kucel dan keruh perjalanan lebih dari 12 jam saya dari Muara Teweh. Saya kenakan salah satu baju terbaik yang saya miliki: t-shirt PERSIB berwarna kelabu yang bersablon warna biru. Biru apa? Ya, biru PERSIB si Pangeran Biru.
Saya lalu menggendong si bidadari dengan gagah dan penuh keberanian, tapi tetap hati-hati. Saya tidak mau gagal. Bagi saya, ini semacam ujian menggendong setelah sebelumnya berlatih pada keponakan saya…hehe.
Saya kecup keningnya, kedua pipinya, lalu saya tempelkan hidung saya pada hidungnya dan mulai menggoyang-goyangkannya serta mendekap lebih erat. Perlahan, ia menggeliat dan mulai membuka dua kelopak matanya hingga tampaklah dua bulatan bening dan indah. Mata kami bersitatap dan di bening matanya saya dapat melihat paras wajah saya. Saya tersenyum, dan ia hanya diam saja. Kata orang (lagi-lagi), penglihatan bayi belumlah optimal sampai 40 hari, tapi walau begitu saya sangat bahagia bahwa kami telah saling berpandangan.
Dia kembali mengatupkan kelopak matanya.Untuk kembali tidur mungkin. Kembali saya cium keningnya dan lebih mendekatkannya ke badan saya. Tak beberapa jenak kemudian mulutnya bergerak dan ia mulai mengeluarkan suara. Ya, ia mulai menangis.
Uh, saya pernah mendengar rekaman orasi Bung Tomo yang membakar Surabayam juga pidato Bung Karno di depan rakyat yang sangat menggugah, dan teriakan ‘FREEDOOOOOOM‘ dari William Wallace yang diperankan Mel Gibson, saat dieksekusi Raja Inggris di film Braveheart yang begitu menggetarkan, tapi percayalah, tangisan si bidadari saat itu adalah suara terindah seluruh jagat, suara yang mengguncang pikiran dan menyelinap manis ke seluruh sudut hati. Saya sempat tercekat beberapa saat dan kemudian berbisik: ‘Abah sayang kamu‘ sambil menahan laju air yang jebol dari bendungan di sudut mata saya.
Saya serahkan kembali si bidadari pada istri saya yang kemudian menyusuinya. Terlihat agak sulit sepertinya si bidadari menemukan dan menghisap puting ambunya. Hal itu membuat saya tergerak untuk bertanya: ‘Perlu abah contohin sayang?‘. Tapi reaksi yang datang justru dari istri saya yang melotot dan kemudian tersenyum.
Oya, konon, Abdul Muthalib ketika kelahiran cucunya Muhammad, dia menggendong bayi itu sambil mengelilingi Ka’bah dan kota Mekah sebagai ungkapan rasa suka cita. Jujur, saya pun ingin sekali melakukan hal serupa: menggendong si bidadari berkeliling dan berteriak suka cita sekuat tenaga. Saya bahagia dan gembira. Sangat gembira. Sangat bahagia.
-Jakarta, 1 Juni 2011-
Hari-hari Ajaib #2
Alkisah, Sobron Aidit yang baru saja menjenguk kakak iparnya, Sutanti, istri DN Aidit, yang baru saja melahirkan putri pertama, diserahi ‘tugas’ untuk mengurus ari-ari dari jabang bayi itu. Entah karena apa, mungkin ingin cepat selesai, ari-ari itu langsung dia buang ke sungai.
Mungkin Sobron lupa, atau tidak tahu, bahwa dalam kepercayaan masyarakat Jawa, jika ari-ari dibuang ke sungai, maka si pemiliknya akan berkelana terus. Dan kita mengetahui persis apa yang terjadi kemudian pada Ibaruri Aidit, si pemilik ari-ari tersebut.
Kisah itu berkelebat dalam pikiran saya ketika membuka bungkusan yang diserahkan oleh mertua saya. Siang yang tak terlalu panas itu, di belakang rumah, tepat beberapa jam setelah bidadari kecilku menghirup nafas pertamanya di dunia.
Tangan saya sedikit bergetar ketika mengeluarkan isi bungkusan itu dan mulai mencucinya. ‘Ari-ari si bayi memang harus dicuci oleh bapaknya, biar dekat sama bapaknya!’ terdengar sebuah teriakan dari seseorang di belakang sana. Saya tidak menanggapinya, saya lebih memilih berkonsentrasi memandangi seonggok daging yang tengah saya kucuri air dan saya usapi, walau selintas sempat terpikr: ‘waduh, kasian juga kalo tidak dekat sama ambu-nya hanya karena tidak ikut mencuci‘.
Itu kali pertama saya melihat ari-ari bayi. Dan kaget juga dengan bentuknya. Dahulu, saya sangka ari-ari berbentuk seperti usus: panjang, melingkar-lingkar dan langsung tersambung ke pusar ibu dari bagian dalam. Atau lebih tepatnya seperti selang yang menghubungkan astronot dengan kapal anjungannya, tapi ternyata, memang ada bagian yang seperti usus itu, tapi tidak terhubung pada bagian dalam pusar ibu, melainkan pada seonggok daging yang mungkin ukurannya hampir sepertiga dari ukuran bayi.
Saya lantas berpikir, pantas saja banyak orang menyebutnya sebagai kembaran si bayi. Dari saat di dalam kandungan, hingga persalinan, mereka selalu berdekatan, bersama-sama. Oleh karenanya, proses ‘pemisahan’-nya pun tidak bisa sembarangan, harus sesuai dengan tata yang berlaku. Ibarat memisahkan selamanya antar dua bersaudara.
Selain dibuang di sungai, yang umum dilakukan adalah dengan cara menguburnya. Tempat menguburnya pun tidak boleh sembarangan, banyak sekali aturan: tidak boleh di tempat yang tergenang air, tidak boleh di tempat yang teraliri air, tapi yang baik, katanya, di dekat jendela kamar si bayi, agar selalu berdekatan sehingga si bayi selalu dalam keadaan nyaman dan tidak rewel.
Itu salah satu adat yang umum dipakai. Ada lagi yang menguburnya di dekat masjid agar si anak sering pergi ke mesjid dan menjadi anak yang taat beragama.
Selain di seputaran masjid, tempat ‘favorit’ lain untuk mengubur ari-ari bayi adalah dekat pohon kelapa. Tentu saja bukan dimaksudkan agar si anak sering memanjat pohon kelapa, tapi hal itu dimaksudkan agar kelak, si bayi menjadi orang dengan nama menjulang tinggi dan bermanfaat bagi banyak orang seperti pohon kelapa yang juga menjadi sabab musabab kenapa Gerakan Pramuka memilih tunas kelapa sebagai lambangnya.
Mungkin maksud lainnya adalah agar si bayi memilik sifat-sifat seperti yang tercantum dalam Dasa Darma Pramuka: sebuah senarai sikap yang saya yakin apabila diamalkan berbarengan dengan 35 butir (kalau belum berubah jumlahnya) Pancasila sudah dapat menjamin kita masuk surga dengan didahului kebahagiaan di dunia.
Saat itu, mungkin karena kesulitan mencari pohon kelapa atau mungkin karena di seputaran masjid sudah sulit ditemukan lahan yang berupa tanah, sehingga jika kami keukeuh untuk menguburnya dekat masjid tentu saja akan menimbulkan masalah karena harus membongkar cor yang mendominasi lahan sekitar masjid, mertua saya memutuskan untuk menguburnya di dekat rumah.
Sejujurnya, saya lebih ingin melepas ari-ari anak saya itu di sungai besar, saya ingin anak saya menjadi seorang pengelana, seseorang yang dapat berkunjung ke berbagai belahan bumi dengan aneka adat dan budayanya, seseorang yang memiliki cakrawala pengetahuan luas dengan spektrum yang lebar dan tentu saja akrab dengan keragaman dengan pelbagai sudut pandangya.
Tapi membingungkan juga, di Jakarta, sungai besar yang saya tahu hanya Ciliwung. Dan lokasinya sepertinya jauh dari rumah mertua saya. Adapun sungai yang aga besar dan relatif dekat lokasinya adalah Sungai Pesanggrahan. Tapi jujur saja saya tidak enak pada Bang Udin si pahlawan sungai Pesanggrahan. Saya takut dimarahi jika membuang sesuatu ke sungai sementara dia dan kawan-kawannya dari kelompok tani Sangga Buana getol membersihkan sungai itu.
Ya sudahlah, saya menuruti apa kata mertua saya. Sekaligus belajar menjadi menantu yang baik lah. Begitu kira-kira saya membatin.
Ternyata bukan hanya masalah tempat, cara penguburannya pun harus pula diperhatikan dengan seksama: Setelah dicuci bersih, ari-ari kemudian dimasukkan ke dalam wadah dari tanah liat dan dikafani. Kendi atau tembikar mungkin namanya. Tutup si wadah itu harus dilubangi untuk kemudian diberi selang yang nantinya ketika dikubur, akan muncul dari tanah. Untuk bernafas, menurut istiadat mah, walaupun saya kebingungan juga mecari organ pernafasannya.
Ketika ari-ari yang itu dimasukkan ke dalam wadah, ternyata dia tidak sendiri, melainkan ‘ditemani’ banyak material lain seperti bunga, bedak, gincu, bumbu masak, pensil, potongan kertas bertuliskan aksara arab dan lainnya. Kesemua barang itu ada maksudnya: bunga, bedak dan gincu dimaksudkan agar kelak si anak menjadi wanita yang cantik dan pandai merawat diri. Bumbu masak tentu saja dimasukkan dengan harapan agar si anak dapat pandai memasak dan menyediakan makanan yang cukup bagi keluarganya. Agar si anak memiliki tulisan yang bagus, maka pensil tentu saja harus dimasukkan bersama si ari-ari. Dan hal lain dengan simbolisasinya masing-masing.
Selesai prosesi penguburan, ada sedikit rasa sesal dari dalam hati, kenapa saya tidak meminta izin sebentar untuk membeli kamus berbagai bahasa yang berukuran kecil dan telepon selular agar anak saya kelak pandai bahasa asing dan tidak gagap teknologi. Tapi yang membuat saya kaget adalah tidak dimasukkannya SISIR ke dalam wadah itu mendampingi si ari-ari. Wew, bagaimana jika dia nanti malas menyisir dan memiliki rambut seperti saya? Tapi ah, mudah-mudahan saja rambutnya indah, sedikit keriting tentunya akan bagus, janganlah lurus banget seperti iklan-iklan shampo yang menyesatkan itu, ya secukupnya saja lah, tidak perlu banyak-banyak.
Tapi hal itu yang kemudian menerbitkan rasa ingin menelepon ibu saya di Bandung untuk bertanya: ‘Bu, ari kapungkur, waktos ari-ari bayi kakang dikubur, ku ibu dipasihan sisir teu?‘
Bidadari kecilku yang tercinta, seperti kata anteu Pito, jadilah seperti apa yang kau mau, dan jangan hentikan pertanyaan dari kepalamu, sayang…:)
Jakarta, 31 Mei 2011
Hari-hari ajaib #1
Saya yakin, ada beberapa hal yang membuat kita langsung terperangkap dalam situasi yang ambigu. Contohnya, bagi saya, adalah kemenangan PERSIB akhir-akhir ini.
Sebagai seorang bobotoh, tentu saja saya atoh dengan kemenangan PERSIB. Tapi perasaan itu seringkali berdampingan dengan perasaan sedih yang muncul bahwa kemenangan itu didaptkan dengan permainan yang jauh dari indah dan menggairahkan: banyak bola abeng-abengan dan pola yang tidak jelas juntrungannya. Juga didapatkan dari memainkan pemain yang itu-itu saja dengan banyak bertebaran pemain asing. Mengenaskan.
Tapi apapun dan bagaimanapun, PERSIB salawasna dina manah.
Dan perasaan itu kembali muncul, bukan di stadion, di depan TV atau di tempat biasa saya menonton PERSIB. Tapi di Ampah, kurang lebih setengah perjalanan menuju Banjarmasin dari Muara Teweh, ibukota Kabupaten Barito Utara tempat dimana saya bergiat.
“Alhamdulillah, istrimu sudah melahirkan” seru suara dari ujung telepon sana, mertua saya. “Bayi lahir dalam keadaan sehat dan sempurna, begitupun ibunya” lanjut suara itu. Sempat ada suasana hening sejenak dalam perbincangan itu. Dan ups, ada yang seperti hendak jebol dari sudut mata saya. Sebuah pertanda percakapan harus segera diakhiri.
Ketika hendak menutup telepon saya bertanya mengenai jenis kelaminnya. “Perempuan” ujar mertua saya dengan nada seolah mengejek dan seakan tidak percaya bagaimana mungkin saya tidak mengetahuinya, padahal hasil USG beberapa kali sudah menyatakan hal itu. Tapi bagaimanapun USG hanyalah sebuah proses mengintip dari luar yang dalam beberapa hal, terutama ‘mengintip’ jenis kelamin, terdapat simpangan seperti yang terjadi dengan sepupu saya. Hasil USG sampai beberapa pekan sebelum melahirkan menyatakan bahwa janin yang ada dalam rahimnya adalah perempuan. Tapi ketika persalinan, yang lahir justru bayi laki-laki. Tidak merubah kebahagiaan, memang, cuma keadaan menjadi lucu ketika mengingat baju dan perlengkapan bayi lainnya yang sudah dipersiapkan bernada perempuan.
Oleh karenanya saya perlu bertanya hal itu pada mertua saya.
Setelah perbincangan usai itulah, di sela-sela ungkapan rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, terbit suatu perasaan ambigu seperti yang saya ceritakan.
Senang dan bahagia karena kerlahiran anak pertama? Tentu, apalagi mengetahui anak pertama lahir dalam keadaan sehat dan sempurna, begitu pun dengan ibunya. Tapi tentu saja ada perasaan sedih yang hinggap. Perasaan sedih karena tak bisa mendampingi istri saya pada detik-detik yang tentu saja akan membuat hidupnya sebagai seorang wanita, bahkan sebagai seorang manusia, tak akan lagi sama. Detik-detik yang dilukiskan sebagai pertarungan antara hidup dan mati, yang diibaratkan sebagai sebuah perang atas nama Tuhan. Detik-detik dimana kesakitan yang sangat sedang menyerang istri saya yang diceritakan seperti kesakitan yang lain dari pada yang lain.
Dan tentu saja saya menyesal tidak bisa mendokumentasikan saat-saat kelahiran anak saya. Untuk apa? Tentu saja untuk kenang-kenangan bagi saya. Tapi seorang kawan baik saya, Restu, pernah berkata bahwa dokumentasi anak melahirkan itu bukan hanya untuk kenang-kenangan, tapi itu berguna untuk ditunjukan pada anak kita manakala anak kita meyerempet pada keadaan yang membuat dia dilabeli ‘nyaris durhaka’. ‘Itu pasti akan merubah pandangan dia mengenai orangtua’, katanya.
Mengenai hal itu, saya langsung teringat kawan saya yang lain, Muhammad Sapriyadi alias Jack, yang menunggui istrinya saat melahirkan dan setelahnya langsung terguncang mengingat ibu yang dulu melahirkannya. Katanya, menunggui persalinan istri sangatlah menegangkan. Melihat istri yang sedang kesakitan tentu saja bukan hal yang membuat kita bisa nyaman ditemani secangkir kopi atau (bagi beberapa orang) berbatang-batang rokok.
Jack bercerita bahwa kulitnya banyak terkelupas oleh cakaran istrinya sangat mengejan. Begitupun rambutnya yang dijambak oleh istrinya. Memang sakit, ceritanya, tapi melihat istrinya yang sedang berjuang keras dihadapannya, dia menyadari bahwa rasa sakit akibat cakaran juga jambakan istrinya, tidak ada apa-apanya dibandingkan kesakitan yang sedang istrinya alami.
Ketika mengingat cerita itu saya lantas berpikir tentang apa yang akan saya lakukan manakala saya mengalami hal serupa. Mengaduh, rasanya tak mungkin. Begitupun dengan berteriak. Memberi semangat, bisa jadi. Tapi bagaimana caranya?. Dan saya menanyakan hal itu pada Jack. Dia berkata sekenanya: ‘Gua nyanyiin Mars Rimbawan ajah‘.
Hahahahaha…..
Dari sederetan lagu kebangsaan yang penuh semangat seperti ‘Halo-halo Bandung’, ‘Garuda Pancasila’ atau yang lebih syahdu seperti ‘Padamu Negeri’ dan ‘Syukur’, saya masih tidak bisa menebak alasan dia memilih lagu Seruan Rimba itu.
Maka, di jalan yang di sisi kanan-kirinya masih diapit hutan, di tengah perjalanan yang diiringi jutaan syukur saya atas ke-Maha-Welas-Asih-an Tuhan, dengan titik air di ujung mata, saya tertawa keras dalam hati. Mungkin saja itu tawa dalam hati terkeras yang pernah saya lakukan.
Selamat datang bidadari kecilku, Layla Levi Althafunnisa…:)
Muara Teweh-Banjarmasin, 30 Mei 2011
foto #2
foto #1
keteladanan
Alkisah anak seorang pejabat negara baru saja pulang dari sekolahnya di luar negeri dan ingin berkeliling kota menggunakan mobil dinas ayahnya.Tapi rupanya si anak harus dibuat kecewa oleh sikap ayahnya; “Mobil itu adalah fasilitas negara dan hanya dapat digunakan untuk kepentingan negara dan rakyat, tidak untuk kepentingan pribadi”.
Tahukah anda siapa si ayah itu? Dia adalah Dipa Nusantara Aidit Ketua CC PKI yang lebih dari 3 hitungan dasa dalam tahun namanya dianggap najis di bumi kita tercinta. Dan, hei…bukankah kisah itu mengingatkan kita pada kisah Amirul Umar Mu’minin Umar bin Khattab yang bersama tamunya berbincang dalam suasana gelap di rumahnya ketika tamunya mengajak berbincang mengenai masalah pribadi.
Kisah lain datang dari Buya Hamka. Ulama, intelektual, sastrawan, politikus yang pernah dipenjara secara keji oleh pemerintahan Bung Karno, dengan jiwa besarnya justru menjadi imam shalat jenazah pada saat meninggalnya sang proklamator kita.
Dan banyak deretan kisah lain, yang seperti datang dari negeri dongeng.
Jujur saja, saya merindukan mereka. Saya merindukan pemimpin yang bukan hanya politikus, tapi juga negarawan-intelektual yang memberikan buku sebagai mas kawin pernikahan, yang memandang jabatan adalah amanat dan tanggung jawab (bukan hasil) dan hidup sederhana seperti Bung Hatta.
Saya merindukan pemimpin yang kharismatik, orator ulung, menguasai banyak bahasa dengan sempurna, memukau seluruh dunia dan bergaul akrab dengan seluruh pemimpin dunia seolah seperti dengan kawan masa kecil yang pernah sama-sama mencuri mangga tetangga atau mungkin membolos bareng. Seorang pemimpin yang penuh percaya diri sehingga jutaa rakyatnya sadar bahwa meraka bukan bangsa babu, bukan bangsa kuli, tapi bangsa yang berdaulat dan berdikari; seperti Bung Karno.
Saya merindukan wakil rakyat yang berpegangan bahwa politik adalah sesuatu hal yang terhormat dan harus dilaksanakan dengan cara terhormat pula yang tentunya akan bersidang dengan penuh semangat, santun, beretika dan pasti akan mengaanggap tidur saat sidang, gebrak meja, memotong pembicaraan lawan, sabotase mikrofon adalah sesuatu hal yang sangat tercela. Wakil rakyat yang dengan sepenuh hati memperjuangkan aspirasi pemilihnya, ideologinya dan bukan wakil rakyat yang gemar pelesiran di saat negara sedang dirundung duka sehingga kita harus bertanya ‘rakyat mana sih yang mereka wakili?’
Wakil rakyat yang cerdas, yang setiap paparan dan argumennya dapat dinikmati dengan asik, yang mempertahankan pendapat sekeras mereka mempertahankan hak pihak yang berseberangan untuk berpendapat, yang saling berdebat dengan keras di dalam sidang, tetapi nongkrong dan ngopi bareng di luar sidang.
Saya merindukan banyak hal. Saya merindukan teladan seperti itu dan mungkin generasi setelah kita pun akan merindukan hal seperti itu.
Tapi di tengah harapan yang mati suri dan optimisme yang sekarat, saya yakin bahwa kita dapat memberikan keteladanan pada generasi setelah kita. Karena bukankah bangsa kita pernah melahirkan manusia-manusia hebat?
jalan
Tepat satu pekan yang lalu, di jalan raya negara yang menghubungkan Muara Teweh dan site kami terjadi kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan kami kehilangan salah satu anggota keluarga kami dan menghantarkan satu anggota keluarga lainnya ke rumah sakit untuk operasi pemasangan pen pada tulang pahanya yang retak. Orang yang pertama adalah pengemudi sepeda motor yang mereka tumpangi dan langsung meninggal seketika.
Kecelakaan memang cukup sering terjadi di ruas jalan itu. Kurang lebih sebulan kemarin ada seorang pengendara sepeda motor gagal mengendalikan kendaraannya lalu menabrak pohon karet di tepi jalan. Dia menghantam pohon itu dengan kepalanya yang kebeulan tidak memakai helm. Dan sudah bisa diduga akhirnya: pengendara itu tewas.
Dan banyak kejadian lain seperti kendaraan yang masuk jurang, terpelanting keluar jalan dan lain sebagainya. Beberapa di antaranya mengakibatkan pengendara atau penumpangnya cedera berat bahkan tewas.
Lupakan sejenak faktor-faktor internal pengendara dalam kecelakaan itu: ketidaklengkapan sarana keselamatan (terutama helm), kemampuan mengendarai yang belum terlalu baik, juga kegemaran ugal-ugalan di jalan raya. Faktor yang harus diperhatikan adalah mengenai kondisi jalan.
Kondisi ruas jalan Muara Teweh-Banjarmasin memang sangat memprihatinkan (jika berlebihan untuk disebut mengerikan): kontur jalan yang menanjak disertai langsung menikung tajan, menanjak dan menurun secara ekstrim, badan jalan yang relatif sempit dan terutama kerusakan jalan yang sangat parah merupakan kondisi yang seharusnya menjadi perhatian serius dari para pemangku kepentingan. Selain kondisi seperti tersebut, perlengkapan jalan seperti rambu, penerangan dan cermin cembung pun sepertinya sangat minim sehingga memungkinkan sekali bagi pengendara yang sudah mahir sekalipun menghadapi kesulitan berakselerasi di jalanan seperti itu.
Saya kira ini menjadi PR yang serius bagi pemerintah terutama lembaga yang bertugas mengurus jalan raya (DLLAJR juga PU), karena ruas jalan itu merupakan salah satu faktor penting dalam pengembangan potensi daerah.
Jika memang pemerintah tidak serius dalam menangani hal ini, saya yakin bukan hanya banyak nyawa yang akan menyusul, mungkin laju perekonomian pun akan ikut tersendat.
Keep Tenggarong Beautiful Leh!
Reklame di atas saya jumpai di Tenggarong, ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara saat saya dan istri berkunjung ke sana penghujung September 2010.
Hal yang menarik adalah bahwa (sebagian besar orang Bandung tentu tahu) kalimat pertama dari reklame seruan di atas sangatlah mirip dengan jargon radio Rase FM di Bandung: ‘Keep Bandung Beautiful Euy!’. Entah siapa yang meniru tapi saya yakin reklame ini lahir lebih kemudian di banding jargon dari Rase FM.
Hal lainnya adalah penggunaan kata ‘euy’. Beberapa bulan saya tinggal di Tenggarong dan bergaul akrab dengan orang-orangnya membuat saya tahu persis bahwa dalam bahasa Kutai ada kata yang artinya kurang lebih sama dengan kata ‘euy’ dalam bahasa Sunda: ‘leh’. Kata ‘leh’ sangat sering diucapkan oleh orang Kutai sesering orang Sunda mengucapkan kata ‘euy’ di akhir kalimat.
Oleh karenanya sayang sekali justru pembuat reklame tidak menggunakan ‘leh’ di akhir kalimat itu, walaupun sebagai orang Sunda tentunya saya bangga akan penggunaan kata ‘euy’ di tempat yang secara kultural jusru lebih kental dibandingkan Sunda…hehe




