Arsip Bulanan: Februari 2012
Hari-hari ajaib #4
Salah satu pekerjaan yang tingkat kesulitannya berada pada dua kubu yang saling bertentangan, bagi saya, adalah memberi nama. Hal tersebut bisa saja sangat mudah tetapi bisa sangat menyulitkan. Tergantung keadaan tentunya.
Pertengahan tahun 90-an, saya baru saja menginjak bangku sekolah menengah pertama, saya ingat, orangtua saya membawa dua ekor kelinci putih sepulang dari Rajamandala. Dan saya diberi kewenangan dan tanggung jawab untuk mengurusnya. Saya senang sekali akan hal itu. Hal pertama yang saya lakukan adalah memberi nama, agar mereka saling mengenal dan tidak bingung dengan identitasnya.
Kebetulan pada saat bersamaan, saya sedang gandrung-gandrungnya dengan The Beatles. Kegandrungan itu mengejawantah dalam berbagai hal: mulai dari mendengarkan lagu-lagunya tiap hari, menandai buku-buku dengan tulisan The Beatles dan yang paling wajib, tentu saja meniru model rambutnya yang keren itu. Ya, anda tak salah baca. Coba bayangkan ketika seorang anak usia 12 tahun berambut (yang saat itu saya yakin adalah) ikal, memaksakan diri untuk memiliki rambut seperti The Fab Four. Hasilnya tentu saja menggelikan, jika dilihat dari kacamata saya hari ini. Tapi dahulu, merasa keren saja tuh. haha.
Dan oleh karenanya ketika mencari nama bagi dua ekor kelinci itu pun saya tidak sulit. Ya, langsung saja saya beri nama dengan dua anggota Beatles paling terkenal, duet pencipta lagu terbaik dalam sejarah musik dunia: John dan Paul. Sempat terpikir juga apakah saya kurang adil terhadap dua yang lainnya yaitu George dan Ringo. Tapi biarlah, tukas saya kala itu, jika ada binatang peliharaan lain, akan saya beri nama mereka.
(Beberapa saat kemudian saya memiliki seekor musang yang saya beri nama George. Dan rekam jejak saya dalam memelihara binatang pun terhenti, jadi nama Ringo belum pernah saya pakai untuk menamai binatang peliharaan. Aduh, kang Ringo, hapunten nya...)
Tuh kan, sangat mudah memberi nama.
Pula ketika saya memelihara 4 ekor bebek di mess tempat saya bekerja sekarang. Saya namai mereka seketika: Muhamad Abdurohim, Imron, Panji dan Steve. Dua nama terakhir adalah saran dari Wempy ketika saya mintai keterangan mengenai isu yang berhembus bahwa jika kita memelihara bebek, maka akan mengundang datangnya ular.
Wempy menjawab: ‘Ah ceuk saha ok, moal‘. (Ah, kata siapa ok, ga akan)
‘Nyaanan euy?’ (Beneran?) saya bertanya lagi.
‘Moal oray hungkul, biawak oge bisa‘, (Ga akan hanya ular, biawak juga bisa) demikian jawab wempy.
Anjrit…saya pikir. Tapi wempy lalu menyarankan: ‘Bere ngaran Panji atawa Steve Irwin we ngarah orayna sieuneun, teu ngaganggu‘. (Beri nama Panji atau Steve Austin saja, agar ularnya takut, jadi tidak akan mengganggu).
Wow, ide brilian ujar saya. Nuhun ah wem. Dengan begitu si ular ataupun biawak akan segan ketika mengetahui bahwa dari kalangan bebek itu ada Panji (tentu saja maksud saya mengacu pada acara televisi Petualangan Panji) dan mendiang Steve Austin yang bersahabat dengan berbagai jenis binatang. Dan permasalahan ular dan binatang lainnya sebagai predator dari si bebek sudah dapat diatasi.
Sebenarnya saya ingin menamai salah satu bebek itu dengan nama Ahmad Jaelani. Tapi dipikir-pikir, kosama persis dengan namanya Ajay. Akhirnya saya urungkan niat itu ga enak ah, kasihan. Kasihan bebeknya.
Sekarang beralih ke bagian sulitnya.
Pemberian nama anak merupakan salah satu hal yang kerap menjadi bahan diskusi antara saya dan istri saya, bahkan bertahun-tahun sebelum kami menikah, ketika masih menjalani masa pacaran. Diskusi hal ini sering berujung pada saling ngambeknya kami berdua. Hal itu sering terjadi. bahkan ketika memasuki jenjang pernikahan pun, kami belum bisa membereskan hal ini.
Saya ingin nama saya unik misalnya untuk nama laki-laki Haji Hasan Mustopa. Ya, dengan kata ‘Haji’ di depannya. Loh? memangnya sudah menunaikan ibadah haji? Ya, belum. Tapi terdengar sangat keren. Kemudian saya menjadi bingung jika nanti anak saya menunaikan ibadah haji dan berhak menyandang gelar Haji di depanya. Namanya Jadi Haji Haji Hasan Mustopa. Tuh, aneh kan?
Nama lainnya yang terpikir adalah Binti Fiki Abubakar. Tentu saja jika anaknya perempuan. Tapi jadi aneh lagi. Kalau gitu berarti anak saya tidak punya nama, hanya keterangan bahwa dia anaknya saya. Lagipula jika nanti pas pernikahan atau acara tertentu, pasti akan sedikit pusing untuk menulis Binti Fiki Abubakar Binti Fiki Abubakar. Loh? Ko ditulis dua kali? Memang siapa namanya? Terus kenapa ga ditulis Binti Fiki Abubakar kuadrat saja agar menghemat kertas. Tuh kan. Belum apa-apa sudah rada riweuh. Ya sudahlah.
Hingga satu waktu, bertepatan dengan sedang sering-seringnya saya mendengarkan lagu keren dari Eric Clapton :’Layla’ versi akustik, yang awalnya dimainkan oleh Clapton bersama Derek and Dominos, saya membaca sebuah berita di Koran Tempo, kisah seorang siswi di Perancis yang nyaris dikeluarkan dari sekolahnya.
Dia bernama Layla Levi, wanita Yahudi-Muslim yang bermasalah dengan sekolahnya ketika Perancis memberlakukan larangan untuk menunjukan simbol agama di muka umum. Termasuk jilbab bagi orang Muslim. Sebagai seorang muslim berjilbab, tentu saja hal itu membingungkan baginya. Tapi dia memiliki solusi kreatif, dia tanggalkan jilbab tradisional dan mengenakan pakaian yang sangat umum dipakai orang Perancis (yang memiliki Paris sebagai salah satu pusat mode) tapi masih menutupi aurat. Sekolah tetap melarangnya dan mengancam mengeluarkannya, tapi dia bertahan dengan hal itu dan bersikukuh menyatakan bahwa pakaian yang dia pakai bukan simbol agama, tapi hal-hal yang umum yang kebetulan saja dapat menutup aurat. Wah, saya pikir hebat sekali dia. Berpijak pada yang benar, teguh pendirian dan berani melawan dengan cerdas.
Ya, akhirnya saya menemukan nama yang ‘kena’: Layla Levi. Maka, pada saat kehamilan, saya kembali mengingatkan kisah itu pada istri saya. Istri saya setuju. Dan persoalan pun muncul kembali mengenai nama belakangnya untuk menjadikannya 3 kata. Entah kenapa, walaupun nama saya dan istri saya hanya terdiri dari dua kata, saya lebih sreg jika nama anak saya terdiri dari 3 kata. Salah satunya mungkin pengaruh informasi yang menyatakan bahwa mulai 2010, untuk berangkat ke daerah Timur Tengah, nama tercantum di paspor haruslah 3 kata. Dan perburuan pun berlanjut.
Sempat terpikir untuk memberi nama akhir dengan Abubakar, sesuai nama belakang saya. Tapi hal itu urung dilakukan untuk alasan yang sulit saya jelaskan. Akhirnya istri saya terpikirkan nama ‘Althafunnisa’yang artinya kira-kira wanita yang lemah lembut. Nama dan artinya bagus, tapi sempat ada sedikit rasa ragu dalam hati.Dan ‘ngambek-ngambekan’ ala pacaran ABG pun kembali terjadi.
Keraguan itu mendadak hilang saat saya mengingat betapa egoisnya saya, bahkan untuk sepucuk nama yang istri saya sukai pun, saya masih menyisakan rasa ragu. Bukankah istri saya yang mengandung selama 9 bulan? dan dia pun yang bk-ngambekan’ ala pacaran ABG pun kembali terjadierjuang keras dengan penuh kesakitan untuk melahirkannya? Sepertinya tidak adil jika dia tidak diberi hak bahkan hanya untuk sekedar menentukan nama belakangnya. Bukankah tanpa banyak tanya pun istri saya menyetujui nama yang saya ajukan sebelumnya? Lagipula, namanya bagus juga, pun artinya.
Dan akhirnya itulah nama bidadari saya: ‘Layla Levi Althafunnisa’. Arti dan maknanya bisa dilihat dari jalinan cerita di atas.
Nama adalah doa dan harapan. Saya lupa dari mana kalimat itu berasal. Dan sepertinya bukan hanya berlaku bagi si anak, tetapi yang terutama adalah bagi kita selaku orangtua. Apakah mungkin kita mengharapkan anak kita menjadi anak sholeh/ah sedangkan kita selaku orang tuanya mencontohkan untuk tidak mengikuti hati nurani? Apakah tidak konyol seandainya kita berlaku tidak sesuai norma sedangkan kita memaksa si anak untuk menjadi orang yang berbudi pekerti luhur? Dan mungkinkah anak kita menghayati sifat-sifat Tuhan sedangkan sikap dan perilaku kita pun tidak mencerminkan orang yang berTuhan?
Ibu, Papap, bahkan Malin Kundang pun rasanya dalam beberapa hal masih jauh lebih sholeh dari kakang. Mohon doa restunya agar dapat menjadi orangtua yang baik sepert halnya Ibu Papap…
Hari-hari ajaib #3
Saya harus memastikan dahulu bahwa benar itu adalah istri saya yang menempati bagian tengah dari ruangan pasca bersalin itu. Saya tak mau, kejadian saat kuliah ketika kami dengan sok tahunya memasuki suatu ruangan dengan agak rusuh sebelum kami sadar bahwa pasien yang kami tuju ada di ruangan sebelahnya. Dan tentu saja itu membuat sewot si pasien dan keluarga yang sedang menungguinya.
Kamar itu dibagi menjadi 3 bagian. Bagian tengah lebih sempit dibandingkan dua ruangan yang mengapitnya. Paling ujung, sebelah kiri pintu masuk, dekat jendela terdapat satu kamar mandi. Sehingga yang paling luas tentu saja adalah ruangan sebelah kanan pintu masuk. Oya, masing-masing bagian dipisahkan gorden berwarna hijau khas rumah sakit.
‘Ade….’ panggilku setengah berbisik sambil menyibak gorden untuk mengintip ke dalam. Dan sebelum dia sempat membalas, mata kami sudah saling bersitubruk diiringi senyum yang mengembang. Ah, senyumnya manis sekali, seperti tak terpancar rasa lelah sisa kurusetra-nya dengan rasa sakit yang amat sangat semalam. Dia terlihat sangat cantik dengan setelan rumah sakit yang warnanya senada dengan tirai pemisah antar ruangan.
Oya, entah kenapa saya selalu berpendapat bahwa fase dimana seorang wanita terlihat sangat cantik adalah saat kehamilan dan sesaat setelah melahirkan. Mungkin karena aura kewanitaannya tampak sangat dominan saat itu atau entah karena alasan apa. Dan istri saya berada dalam salah satu fase itu sekarang.
Saya masuk ke ruangan itu, mendekatinya dan mencium keningnya. Saya perhatikan perutnya yang sudah mengempis dan sempat heran juga selama sepersekian detik sebelum disadarkan bahwa ada sosok lain di antara kami: si bidadari. Sedang terlelap di keranjang dorong kecil di samping tempat tidur, dia tampak tidak terlihat berusaha beradaptasi dengan lingkungan barunya. Dia sepertinya tenang-tenang saja.
Saya sempat kaget melihat ukurannya, karena walaupun dia ditekuk dan dilipat sedemikian rupa, sepertinya volumenya lebih besar dari ukuran pertambahan volume perut istri saya ketika hamil. Tapi kata orang memang seperti itulah adanya: bayi akan mengembang ketika dia keluar dari gua garba dan menghirup udara bebas pertamanya. Tiba-tiba saya teringat orang-orang yang mempunyai ukuran badan di atas rata-rata dan bertanya apakah mereka terlalu dalam ketika menghirup udara pertamanya sehingga mengembangnya badan mereka lebih besar dari yang lain? atau bagaimana? ah sudahlah…tak perlu saya pikirkan lagi.
Saya masih belum puas memandang wajah si bidadari dan mulai mendekatkan wajah ke keranjang untuk melihatnya lebih jelas. ‘Banyak yang bilang mirip kamu‘ ujar istri saya. Saya hampir terbahak saat mendengarnya. Jujur, saya rada sulit melihat kemiripan seseorang dengan yang lainnya. Oleh karenanya saya selalu merasa bingung dengan pendapat orang yang menyatakan ada kemiripan saya dengan Giring-nya Nidji. Seperti kembar, mungkin kembar sial. Tapi dalam hati saya lebih merasa (atau ingin?) mirip dengan Ferdi Hasan. hahaha
Oya, Astaghfirullooh…saya harus ber-istighfar memohon ampun untuk hal ini. Saya hampir lupa untuk memperhatikan bagian terpenting yang pasti akan banyak orang tanyakan : rambut. Rambutnya tidak keriting (ya, silakan baca kribo), tetapi lurus seperti ibunya. Saya tersenyum sendiri sebelum disadarkan oleh satpam dalam hati yang seolah memukul saya dengan pentungan sambil menatap dengan pandangan yang seperti menyatakan: ‘hei, ingat, waktu kecil kan rambutmu lurus juga!‘. Saya hanya balik menatap satpam itu sambil memaki dalam hati ” ‘anyeeeeeng‘.
‘Boleh saya menggendongnya?’ tanya saya pada istri saya. Ia hanya mengangguk dan beranjak untuk mengambil si bidadari dari keranjangnya. Saya menuju kamar mandi setelah memutuskan untuk mencuci tangan dan bersalin baju. Saya tak mau anak saya menghirup bau kucel dan keruh perjalanan lebih dari 12 jam saya dari Muara Teweh. Saya kenakan salah satu baju terbaik yang saya miliki: t-shirt PERSIB berwarna kelabu yang bersablon warna biru. Biru apa? Ya, biru PERSIB si Pangeran Biru.
Saya lalu menggendong si bidadari dengan gagah dan penuh keberanian, tapi tetap hati-hati. Saya tidak mau gagal. Bagi saya, ini semacam ujian menggendong setelah sebelumnya berlatih pada keponakan saya…hehe.
Saya kecup keningnya, kedua pipinya, lalu saya tempelkan hidung saya pada hidungnya dan mulai menggoyang-goyangkannya serta mendekap lebih erat. Perlahan, ia menggeliat dan mulai membuka dua kelopak matanya hingga tampaklah dua bulatan bening dan indah. Mata kami bersitatap dan di bening matanya saya dapat melihat paras wajah saya. Saya tersenyum, dan ia hanya diam saja. Kata orang (lagi-lagi), penglihatan bayi belumlah optimal sampai 40 hari, tapi walau begitu saya sangat bahagia bahwa kami telah saling berpandangan.
Dia kembali mengatupkan kelopak matanya.Untuk kembali tidur mungkin. Kembali saya cium keningnya dan lebih mendekatkannya ke badan saya. Tak beberapa jenak kemudian mulutnya bergerak dan ia mulai mengeluarkan suara. Ya, ia mulai menangis.
Uh, saya pernah mendengar rekaman orasi Bung Tomo yang membakar Surabayam juga pidato Bung Karno di depan rakyat yang sangat menggugah, dan teriakan ‘FREEDOOOOOOM‘ dari William Wallace yang diperankan Mel Gibson, saat dieksekusi Raja Inggris di film Braveheart yang begitu menggetarkan, tapi percayalah, tangisan si bidadari saat itu adalah suara terindah seluruh jagat, suara yang mengguncang pikiran dan menyelinap manis ke seluruh sudut hati. Saya sempat tercekat beberapa saat dan kemudian berbisik: ‘Abah sayang kamu‘ sambil menahan laju air yang jebol dari bendungan di sudut mata saya.
Saya serahkan kembali si bidadari pada istri saya yang kemudian menyusuinya. Terlihat agak sulit sepertinya si bidadari menemukan dan menghisap puting ambunya. Hal itu membuat saya tergerak untuk bertanya: ‘Perlu abah contohin sayang?‘. Tapi reaksi yang datang justru dari istri saya yang melotot dan kemudian tersenyum.
Oya, konon, Abdul Muthalib ketika kelahiran cucunya Muhammad, dia menggendong bayi itu sambil mengelilingi Ka’bah dan kota Mekah sebagai ungkapan rasa suka cita. Jujur, saya pun ingin sekali melakukan hal serupa: menggendong si bidadari berkeliling dan berteriak suka cita sekuat tenaga. Saya bahagia dan gembira. Sangat gembira. Sangat bahagia.
-Jakarta, 1 Juni 2011-

