Alkisah anak seorang pejabat negara baru saja pulang dari sekolahnya di luar negeri dan ingin berkeliling kota menggunakan mobil dinas ayahnya.Tapi rupanya si anak harus dibuat kecewa oleh sikap ayahnya; “Mobil itu adalah fasilitas negara dan hanya dapat digunakan untuk kepentingan negara dan rakyat, tidak untuk kepentingan pribadi”.

Tahukah anda siapa si ayah itu? Dia adalah Dipa Nusantara Aidit Ketua CC PKI yang lebih dari 3 hitungan dasa dalam tahun namanya  dianggap najis di bumi kita tercinta. Dan, hei…bukankah kisah itu mengingatkan kita pada kisah Amirul Umar Mu’minin Umar bin Khattab yang bersama tamunya berbincang dalam suasana gelap di rumahnya ketika tamunya mengajak berbincang mengenai masalah pribadi.

Kisah lain datang dari Buya Hamka. Ulama, intelektual, sastrawan, politikus yang pernah dipenjara secara keji oleh pemerintahan Bung Karno, dengan jiwa besarnya justru menjadi imam shalat jenazah pada saat meninggalnya sang proklamator kita.

Dan banyak deretan kisah lain, yang seperti datang dari negeri dongeng.

Jujur saja, saya merindukan mereka. Saya merindukan pemimpin yang bukan hanya politikus, tapi juga negarawan-intelektual yang memberikan buku sebagai mas kawin pernikahan, yang memandang jabatan adalah amanat dan tanggung jawab (bukan hasil) dan hidup sederhana seperti Bung Hatta.

Saya merindukan pemimpin yang kharismatik, orator ulung, menguasai banyak bahasa dengan sempurna, memukau seluruh dunia dan bergaul akrab dengan seluruh pemimpin dunia seolah seperti dengan kawan masa kecil yang pernah sama-sama mencuri mangga tetangga atau mungkin membolos bareng. Seorang pemimpin yang penuh percaya diri sehingga jutaa rakyatnya sadar bahwa meraka bukan bangsa babu, bukan bangsa kuli, tapi bangsa yang berdaulat dan berdikari; seperti Bung Karno.

Saya merindukan wakil rakyat yang berpegangan bahwa politik adalah sesuatu hal yang terhormat dan harus dilaksanakan dengan cara terhormat pula yang tentunya akan bersidang dengan penuh semangat, santun, beretika dan pasti akan mengaanggap tidur saat sidang, gebrak meja, memotong pembicaraan lawan, sabotase mikrofon adalah sesuatu hal yang sangat tercela. Wakil rakyat yang dengan sepenuh hati memperjuangkan aspirasi pemilihnya, ideologinya dan bukan wakil rakyat yang gemar pelesiran di saat negara sedang dirundung duka sehingga kita harus bertanya ‘rakyat mana sih yang mereka wakili?’

Wakil rakyat yang cerdas, yang setiap paparan dan argumennya dapat dinikmati dengan asik, yang mempertahankan pendapat sekeras mereka mempertahankan hak pihak yang berseberangan untuk berpendapat, yang saling berdebat dengan keras di dalam sidang, tetapi nongkrong dan ngopi bareng di luar sidang.

Saya merindukan banyak hal. Saya merindukan teladan seperti itu dan mungkin generasi setelah kita pun akan merindukan hal seperti itu.

Tapi di tengah harapan yang mati suri dan optimisme yang sekarat, saya yakin bahwa kita dapat memberikan keteladanan pada generasi setelah kita. Karena bukankah bangsa kita pernah melahirkan manusia-manusia hebat?

Tepat satu pekan yang lalu, di jalan raya negara yang menghubungkan Muara Teweh dan site kami terjadi kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan kami kehilangan salah satu anggota keluarga kami dan menghantarkan satu anggota keluarga lainnya ke rumah sakit untuk operasi pemasangan pen pada tulang pahanya yang retak. Orang yang pertama adalah pengemudi sepeda motor yang mereka tumpangi dan langsung meninggal seketika.

Kecelakaan memang cukup sering terjadi di ruas jalan itu. Kurang lebih sebulan kemarin ada seorang pengendara sepeda motor gagal mengendalikan kendaraannya lalu menabrak pohon karet di tepi jalan. Dia menghantam pohon itu dengan kepalanya yang kebeulan tidak memakai helm. Dan sudah bisa diduga akhirnya: pengendara itu tewas.

Dan banyak kejadian lain seperti kendaraan yang masuk jurang, terpelanting keluar jalan dan lain sebagainya. Beberapa di antaranya mengakibatkan pengendara atau penumpangnya cedera berat bahkan tewas.

Lupakan sejenak faktor-faktor internal pengendara dalam kecelakaan itu: ketidaklengkapan sarana keselamatan (terutama helm), kemampuan mengendarai yang belum terlalu baik, juga kegemaran ugal-ugalan di jalan raya. Faktor yang harus diperhatikan adalah mengenai kondisi jalan.

Kondisi ruas jalan Muara Teweh-Banjarmasin memang sangat memprihatinkan (jika berlebihan untuk disebut mengerikan): kontur jalan yang menanjak disertai langsung menikung tajan, menanjak dan menurun secara ekstrim, badan jalan yang relatif sempit dan terutama kerusakan jalan yang sangat parah merupakan kondisi yang seharusnya menjadi perhatian serius dari para pemangku kepentingan. Selain kondisi seperti tersebut, perlengkapan jalan seperti rambu, penerangan dan cermin cembung pun sepertinya sangat minim sehingga memungkinkan sekali bagi pengendara yang sudah mahir sekalipun menghadapi kesulitan berakselerasi di jalanan seperti itu.

Saya kira ini menjadi PR yang serius bagi pemerintah terutama lembaga yang bertugas mengurus jalan raya (DLLAJR juga PU), karena ruas jalan itu merupakan salah satu faktor penting dalam pengembangan potensi daerah.

Jika memang pemerintah tidak serius dalam menangani hal ini, saya yakin bukan hanya banyak nyawa yang akan menyusul, mungkin laju perekonomian pun akan ikut tersendat.

Reklame di atas saya jumpai di Tenggarong, ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara saat saya dan istri berkunjung ke sana penghujung September 2010.

Hal yang menarik adalah bahwa (sebagian besar orang Bandung tentu tahu) kalimat pertama dari reklame seruan di atas sangatlah mirip dengan jargon radio Rase FM di Bandung: ‘Keep Bandung Beautiful Euy!’. Entah siapa yang meniru tapi saya yakin reklame ini lahir lebih kemudian di banding jargon dari Rase FM.

Hal lainnya adalah penggunaan kata ‘euy’. Beberapa bulan saya tinggal di Tenggarong dan bergaul akrab dengan orang-orangnya membuat saya tahu persis bahwa dalam bahasa Kutai ada kata yang artinya kurang lebih sama dengan kata ‘euy’ dalam bahasa Sunda: ‘leh’. Kata ‘leh’ sangat sering diucapkan oleh orang Kutai sesering orang Sunda mengucapkan kata ‘euy’ di akhir kalimat.

Oleh karenanya sayang sekali justru pembuat reklame tidak menggunakan ‘leh’ di akhir kalimat itu, walaupun sebagai orang Sunda tentunya saya bangga akan penggunaan kata ‘euy’ di tempat yang secara kultural jusru lebih kental dibandingkan Sunda…hehe

Tiba-tiba saya teringat Keluarga Cemara. Hal itu terjadi sustru ketika saya bersama-sama keponakan menonton Upin dan Ipin: dua bersaudara menggemaskan, datang dari sebuah negara tetangga yang sering kita semati label ‘maling’ saat menyebutnya.

Dari segi teknis, memang sulit membandingkan kedua tontonan itu: yang satu adalah drama seri, yang lainnya adalah animasi.Tapi ada aspek lain yang membuat keduanya memiliki irisan yaitu kesederhanaan dan pelajaran moral yang hendak disampaikan.

Secara objektif, harus kita akui bahwa negara tetangga kita itu lebih maju secara ekonomi dan pembangunan fisiknya. Siapa yang tidak iri dengan adanya SMART Tunnel yang dapat membuat Kuala Lumpur terbebas dari banjir dan macet? Padahal mungkin pimpinan Kuala Lumpur tidak memiliki kegoblokan untuk mencantumkan label ‘ahli’ pada saat kampanyenya, mungkin juga tidak berkumis.

Itu hanya dugaan, saya tidak tahu.

Jangan lupakan Menara Petronas. Menara yang dimiliki oleh perusahaan yang (ironisnya) pengelolaannya belajar dari Pertamina kita. Si murid terus belajar giat mengembangkan diri hingga membangun menara kesohor itu, menjadi sponsor di arena balapan F1. Sang guru? masih menjadi raksasa kerdil dan ditinggal kemih berdiri oleh muridnya yang kemih berlari.

Dan dengan segenap kemajuan itu kita disuguhi sebuah tayangan yang sepertinya ingin menunjukkan ‘siapa dan dari mana kami berasal’: sebuah keluarga sederhana dari desa yang sama sederhananya pula yang mengisi sore sepulang sekolah dengan bermain petak umpet, ikut membantu menanam, bersepeda keliling kampung, rerebonan (saya kurang tahu padanan kata dalam bahasa Indonesia-nya), juga bermain sorodotan pelepah kelapa. Hal-hal yang pasti adalah kegiatan rutin kita semasa kecil yang sepertinya sudah amat jarang kita temui dalam titimangsa dimana PS serta permainan dengan corak individualis lain meraja.

Dan tentunya hal sederhana lain yang kadang membuat kita seakan bercermin pada masa lalu.

Dari rangkaian tayangan itu kita wajib menangkap nilai moral yang hendak disampaikan: hal-hal kecil, sederhana, yang kita anggap semacam temeh sejatinya sangatlah penting dan mendasar yang sebenarnya arus kita tanamkan semenjak dini sebagai pondasi hidup: menyambut yang lain dalam sebuah toleransi (lihat bagaimana karakter dalam tayangan itu ditampilkan), proses pendisiplinan diri, pembelajaran bercocok tanam, berwirausaha, etika terhadap guru juga orang tua dan barisan nilai-nilai mulia lainnya.

Keluarga Cemara saya kira mempunyai sebuah irisan besar dengan nilai-nilai di atas: kesantunan berbicara, proses identifikasi dan penyelesaian masalah serta kehangantan hubungan antar anggota keluarga patut membuat kita merasa terselamatkan.

Bandingkan dengan tayangan sekarang yang penuh hardikan terhadap sesama, sikap iri dan dengki, dendam kesumat yang tak pernah tersumbat rapat, hingga tingkah laku yang pantas kita bertanya dengan sikap kritis: inikah gambaran masyarakat dari suatu negara yang menjadikan Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah untuk Mufakat dan Keadilan sebagai pegangan hidup dan pedoman melangkah? Inikah pencandraan dari sebuah bangsa yang menjunjung tinggi adat ketimuran dituntun oleh ajaran yang dibawa Rasulullah SAW, ISa al Masih, Sidharta dan sederet manusia bestari lainnya?

Keluarga Cemara seolah menjadi monumen pengingat bahwa kita adalah bangsa besar yang justru memberikan lebih pada hal yang sederhana dan detail yang sesunggguhnya menunjang keindahan dan kesempurnaan.

Dan satu hal yang terpenting, Keluarga Cemara mengingatkan kita bahwa bagaimanapun, keluarga adalah sebuah suaka perlindungan, wilayah penyangga dan benteng utama atas segala pengaruh buruk yang datang dari luar (bukan pejabat negara atau ormas yang menjadikan kekerasan -bukannya kasih sayang- dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar ). Oleh karenanya terlepas dari isu yang menyatakan bahwa tayangan ini merupakan bentuk propaganda dari seuatu kelompok tertentu, kita harus mengapresiasi lebih dan berharap bahwa suatu saat akan ada dermawan lain yang akan membuat tayangan sama baiknya.

Saya tidak tahu persis akan seperti apa Upin dan Ipin saat besar nanti, juga tentang apa yang akan mereka klaim dari kita kelak. Tapi jikalau itu terjadi lagi tentunya itu bukan karena kepintaran mereka, tapi kebodohan kita.

Muara Teweh, Nop.2010.

Sudah lama sekali saya tidak menjenguk ‘rumah’ saya yang satu ini. Saya tidak tahu kenapa.

Sibuk? ah, bukankah ‘rumah’ yang lain pun sering saya kunjungi, bercengkrama malah menginap di sana. Malas? mungkin. Walaupun tidak tahu apa yang mengharuskan saya mengikuti kemalasan itu.

Entahlah. Yang jelas pasti banyak alasan yang bisa dibuat (-buat) dan semuanya maksimal hanya bisa membuat saya sedikit terhibur, tapi tidak tenang.

Dan karenanya saya harus lebih giat. Semoga.

Catalytic. Sifat beberapa tanaman yang saya ketahui lebih kemudian dibandingkan dengan sifat-sifat tanaman yang lain. Hal ini saya dapatkan di mata kuliah Ekologi Restorasi.

Secara singkat, tanaman yang bersifat catalytic adalah tanaman yang pertumbuhannya bersifat kondusif untuk jenis-jenis lain, sehingga proses suksesi dapat dipercepat. Jenis ini biasanya cepat tumbuh, banyak menghasilkan serasah dan serasahnya mudah hancur. (Setiadi, 2006)

Pengertian di atas sangat pas rasanya dengan cerita dosen pembimbing saya mengenai anak bimbingnya dahulu, jauh sebelum saya, yang sekarang memiliki jabatan penting di salah satu NGO internasional.

Prestasi akademisnya tidak terlalu menonjol, cenderung di bawah rata-rata malahan. Dia bukan tipikal orang yang ketika sekali membaca langsung dapat menghafal tiap-tiap kata lengkap dengan semua tanda bacanya atau tipikal mahasiswa kutu buku yang lingkaran kehidupannya hanya berkisar di kampus-kostan-perpustakaan.

Lalu apa yang dapat membuat dirinya bak meteor, melesat hingga mencapai posisi yang sekarang ia duduki, di luar prediksi atau bayangan setiap orang mengenai dirinya?

Sifat catalytic dalam dirinya lah yang dapat membuat dia menjadi seperti itu. Dia dapat membuat orang-orang berada nyaman di dekatnya dan memperlakukan semua orang seperti teman lama. Dengan itulah akhirnya dia mencapai posisi seperti sekarang, tidak dengan tiga digit angka dengan dua angka di belakang koma.

Sifat catalytic, yang tentunya tidak didapatkan di bangku kuliah, di hadapan dosen yang sering memakai rujukan untuk menyampaikan kuliahnya dari pustka tahun “jebot” dan lupa bahwa di luar kampus, ilmu pengetahuan sudah melesat jauh.

Mungkin itulah yang kurang dari pendidikan kita. Kuantifikasi atas nilai-nilai kualitatif justru lebih cenderung menjauhkan manusia dari nilai-nilai kemanusiaan. Menjadikan manusia hanya sekeping komponen dari sebuah mesin besar bernama kehidupan.

Aksentuasi terhadap nilai kuantitatif itulah yang menjadikan para siswa berlomba untuk mengejar nilai -dengan cara apapun, dan melupakan bahwa nilai adalah suatu tanggung jawab, bukan hasil -seperti yang terus saya yakini dan kemudian ditegaskan oleh Dr. Yadi Setiadi saat memimpin sidang komprehensif yang saya jalani.

Dan pada akhirnya, pendidikan hanyalah upaya mengukuhkan nilai-nilai “kemesinan”-pada diri manusia- yang hanya bisa bekerja sesuai kapasitas produksi dan tidak menghendaki misteri.

Ah…Sekali lagi, kita belajar dari pohon, dari hutan. Mungkin pula itu sebabnya kenapa raja-raja pada zaman dahulu memilih hutan sebagai tempat sebagai tempat pengasingan setelah selesai bertahta untuk bersiap menuju kehidupan abadi: untuk menemukan kembali nilai-nilai kemanusiaan.*

[okt.06]

*dengan indah, GM pernah menuliskan mengenai hal itu pada salah satu tatal di “Tuhan dan Hal-hal yang tak selesai”, tapi saya lupa tatal nomor berapa dan bukunya tertingal kantor keparat. gelo! hehe

pesta demokrasi itu baru saja usai, walaupun belum ada pengumuman resmi dari pihak KPU, sepertinya hasilnya sudah dapat diketahui melalui survey beberapa lembaga yang memiliki hasil dengan kecenderungan hampir sama.

Periode lalu, penguasa tertinggi di Departemen Kahutanan berasal dari partai politik dengan hasil seperti yang sudah kita ketahui bersama.

Bagaimana dengan sekarang? Berasal dari manakah menteri kehutanan mendatang?

entahlah, saya masih berharap bahwa dia adalah seorang rimbawan. Tapi yang terpenting adalah dia mampu menerjemahkan tiap interaksi yang terjalin; tiap perkecambahan; tiap daun yang berguguran membentuk sebuah siklus, ke dalam sebuah kebijakan yang ramah terhadap hutan.

Demi kelestarian hutan kita tentunya…

[9.jul.09]

saya agak kaget juga membaca berita ini.

begitu juga seorang teman yang bahkan memasukkan berita tadi ke tautan di facebook-nya disertai komentar, “celaka banget kalo begini….”.

Hal itu tentunya merupakan sebuah kekhawatiran yang beralasan, karena bagaimanapun, upaya untuk menjaga, mengelola hingga memperbaiki (restorasi) hutan berpangkal dari kesadartahuan masyarakat akan pentingnya hutan.

Tapi yang harus kita coba selidik dari judul berita di atas (yang menggunakan gayabahasa pars pro toto) adalah apakah benar bahwa masyarakat Indonesia tidak tahu akan fungsi hutan? masyarakat yang mana, di mana dan seperti apa?

Apakah mungkin masyarakat sekitar hutan tidak tahu akan pentingnya hutan, padahal mereka berinteraksi teramat intim dengan hutan? Mungkinkah para nelayan tidak mengerti akan pentingnya hutan mangrove ketika tangkapan ikan mereka menurun seiring dengan kerusakan hutan mangrove? Juga masyarakat adat ketika hasil buruan terus berkurang dan semakin sulit untuk mengambil hasil hutan ketika kerusakan hutan terus menerus terjadi di sekitarnya?

Mungkin yang dimaksud adalah kita: masyarakat yang berada jauh dari hutan, yang mungkin masih membayangkan hutan sebagai tepat yang menyeramkan dan dipenuhi dedemit-dedemit yang siap memangsa kita. Masyarakat yang terus menerus mengkonsumsi kayu, udang, ikan juga menggunakan kertas dan tisu tidak secara bijak sembari terlupa bahwa mungkin produk turunan hasil hutan yang kita konsumsi memberikan beban yang tidak sedikit terhadap hutan.

Dan tentunya tekanan ekonomis, sosiologis juga budaya terhadap masyarakat sekitar hutan.

Mungkin itu sebabnya, mendaki gunung dan pergi ke hutan merupakan kegiatan yang seharusnya kita lakukan sesering mungkin. Untuk menyadari bahwa hutan merupakan sebuah realitas yang teramat dekat, dan tanpanya kita bukan apa-apa.

[jun.09]

melalui bantuan internet…saya sempat berbincang-bincang dengan beberapa kawan…metodenya: chatting tentu.

dan saya tersentak, saya hampir lupa bahwa saya memiliki kawan-kawan yang menakjubkan: dukan, mprat juga kawan-kawan yang lain.

Berbincang dengan mereka, mendiskusikan beberapa hal, membuat kepesimisan saya akan masa depan bangsa kita lumayan tereduksi: masih banyak kawan-kawan yang memiliki idealisme tinggi, militansi yang masif, juga cakrawala pengetahuan yang merentang luas yang tentunya akan membawa bangsa ini beranjak maju jika diberi kesempatan untuk berkreasi.

Ah, maaf…tidaklah perlu kalian repot-repot unruk memberi kesempatan, biar kami sendiri yang akan mencari dan merebutnya…

Dengan cara kami tentunya….

[13.apr.09]

nanam2cing atuh euy pa…

Pertama, saya menghargai usaha bapak untuk mengajak bangsa kita untuk terus menanam…(bukan, penghargaan ini bukan karena saya lulusan Budidaya Hutan Fahutan IPB. Kalaupun saya adalah lulusan spesialisasi kandungan Universitas Negeri Mekkah, saya pun tetap akan menghargainya karena memang kita membutuhkan pohon).

Tapi….lepas dulu atuh polybag-nya…

agar tanaman bisa tumbuh dan berkembang dan minimal agar bapak tidak terlihat bodoh dalam hal penanaman juga agar sifat proforma dari penanaman yang bapak lakukan ini dapat lumayan tersembunyikan…

saya kira tidak butuh bergelar Doktor dari perguruan tinggi pertanian (yang sangat membanggakan bapak sebagai alumni terbaiknya) untuk tahu bagaimana caranya menanam yang baik dan betul….

[apr.09]

foto diambil dari  sini

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.