takut

Dalam khutbah jumat beberapa waktu yang lalu, seperti biasa, seruan meningkatkan iman dan takwa selalu dilakukan oleh khatib. Iman dan takwa yang dicirikan dengan tergetarnya hati kita ketika mendengar nama Allah, yang dibaratkan oleh khatib tersebut adalah sebagai tergetarnya hati pencuri yang sembunyi ketika ketakutan mendengar raungan sirine mobil polisi.

Saya kira ada yang keliru dalam penyampaian perumpamaan tersebut.

Getar hati bukan hanya timbul dari rasa takut. Ia dapat pula hadir dari rasa cinta dan rindu yang membuncah kepada kekasih: getar yang mengiringi setiap langkah kita dalam perjalanan menuju rumah kekasih, debar ketika kekasih tak kunjung tiba padahal waktu janjian baru berlalu tak lebih satu menit, atau bahkan gairah yang muncul mendengar dering telepon genggam yang kita setel ketika panggilan dari kekasih masuk dan muncul namanya di layar telepon genggam.

Hal itu mengingatkan saya pada ujaran Goenawan Muhammad dalam salah satu catatan pinggirnya: Terlalu sering kita diminta untuk takut kepada-Nya, sehingga terlalu sering kita lupa bahwa kita pun bisa tertarik dan mencintai-Nya.

Dan dengan itu, kita yang harus merenung, hubungan seperti apa yang akan kita bangun dengan Tuhan kita…

Sebakis-Nunukan | Feb 2016


Reuni Mapasi (Manggala Paksi) : sebuah perjalanan kembali ke akar.

P1230384

 

Kang Jalaluddin Rakhmat, dalam salah satu tulisannya pernah memperkenalkan suatu istilah mengenai penyakit yang diderita oleh manusia modern sebagai akibat yang lahir dari biaya sosial, ekonomi dan psikologis yang harus dibayar untuk menebus modernitas. Modernitis; itulah istilah yang dipakai untuk menyebut penyakit atau sindrom tersebut.

Sindrom atau penyakit yang hinggap pada manusia-manusia yang karena banyak tuntutan modernitas telah termesinkan menjadi robot-robot yang hanya bergerak sesuai kapasitas produksi, tidak menghendaki misteri, kehilangan spontanitas dan kreativitas atau singkatnya kehilangan rasa kemanusiaan.

Dan, kembali menurut kang Jalal, salah satu terapi yang efektif dalam mengobati sindrom/penyakit tersebut adalah mudik. Perjalanan mudik memungkinkan kita semua untuk menengok kembali ke dalam diri kita, untuk melihat kembali wajah-wajah yang hadir saat masa-masa dimana tuntutan ekonomi belum mengecengkeram kita dengan kuat, untuk mengetahui dari mana kita berasal dan mengembalikan rasa kemanusiaan kita melalui segenap perjumpaan dengan orang-orang di kampung halaman.

Saya lebih senang menyebutnya perjalanan kembali ke akar.

Dan itu yang saya rasakan pada 27 Desember 2014 yang lalu, saat reuni HPA Mapasi, SMUN 4 Bandung.

Saya datang relatif awal saat itu, walaupun memang tidak tepat waktu. Baru beberapa orang yang hadir ketika saya tiba. Hanya ada satu wajah yang saya kenal saat itu, yang lainnya hanya wajah-wajah asing tapi memancarkan keramahan luar biasa ketika saya memperkenalkan diri.

Dan orang-orang pun mulai berdatangan. Semua yang datang hampir mendapatkan kemeriahan yang sama dalam penyambutannya: tawa terbahak, kekagetan melihat perubahan bentuk fisik, jabat tangan erat dan pelukan hangat dengan beberapa disertai helaan nafas panjang untuk mencoba menahan bendungan yang hendak jebol dari ujung mata. Terpukau rasanya melihat bagaimana sebuah komunitas pada akhirnya membentuk sebuah keakraban yang sangat karib layaknya keluarga, atau bahkan lebih.

Tentu saja hal itu adalah sebuah proses. Proses yang bukan hanya terjadi di ruang kelas, halaman sekolah, gunung, lembah, sungai, tebing tapi juga melibatkan banyak emosi dan dalam rentang waktu yang panjang.

Kini, rupanya sudah tiba giliran saya. Rekan seangkatan saya, Ica (ya, nama yang sama dengan nama panggilan bidadari kecil saya -Layla Levi Althafunnisa), tiba di tempat. Saya memandangnya dari kejauhan dan melemparkan senyum. Ini perjumpaan saya yang kedua setelah lulus SMA tahun 2001 yang lalu, sebelumnya di tahun 2005 ketika Ica menikah.

Saya menghampirinya dan bertanya kabar. Saat itu saya tidak terlalu banyak bicara karena seolah ada gundu di kerongkongan yang membuat saya tercekat. Saya memilih duduk agak jauh dari Ica untuk sejenak menikmati sergapan rasa haru dan meredakan badai yang ada di pikiran saya saat itu.

Seketika berhamburanlah kenangan mengenai masa-masa bagaimana kami berkarya di Mapasi. Suatu babakan waktu dimana adonan karakter dari rumah kemudian dicetak dan ditempa. Ya, masa pembangunan pondasi karakter.

2015-01-22_09.28.42

Tidak hanya mendapatkan pengetahuan bagaimana caranya untuk tidak jatuh dari tebing, lebih dari itu, Mapasi mengajarkan saya untuk kembali bangkit setelah terpuruk dari permasalahan kehidupan, dan mempersiapkan mental dengan kepalan tangan dan teriak nyaring, senyaring kami berteriak ‘Siap! Mapasi!!’ ketika kami digodok dalam Pendidikan Dasar.

Tidak hanya mendapatkan pengetahuan bagaimana menyiapkan sebuah perjalanan mendaki gunung, lebih dari itu, Mapasi mengajarkan saya untuk bersiap menghadapi keadaan terburuk saat sepertinya semua aspek kehidupan menghantam kita.

Tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai indahnya penjelajahan alam di sekitar kita, tapi Mapasi mengajarkan untuk memandang alam dan manusia dalam suatu kesatuan yang holistik dan tak terpisahkan. Sebuah pandangan ekosentris.

Mapasi tidak hanya mengajarkan untuk mencumbui alam dengan karib, tapi juga mengajarkan bagaimana kita memperlakukan dan menghargai manusia dengan nilai kemanusiaan yang tinggi.

Mapasi yang memberikan penyadartahuan kepada saya bahwa sesungguhnya keberhasilan mendaki gunung tidaklah berarti penaklukan kita akan gunung tersebut, tapi sesungguhnya upaya pembelajaran kita dalam menaklukan diri sendiri.

Satu hal yang sepengetahuan saya tidak pernah Mapasi ajarkan (selain baris berbaris) adalah cara bagaimana mencintai alam. Karena bukankah rasa cinta itu akan tumbuh dan mengakar justru ketika ia tidak diucapkan di ruang kelas dan hanya berpotensi menjadi sekedar slogan, tetapi saat mendaki gunung, memanjat tebing, menyusuri pantai juga mengarungi sungai.

Oleh karenanya, doktrin terbesar yang saya tangkap dari seluruh pembelajaran Mapasi bukanlah mengenai kepecinta—alaman, tetapi adalah mengenai tanggung jawab, terutama tanggung jawab terhadap diri sendiri. Dan turunan dari tanggung jawab tentu saja saya yakin semua sudah mengetahuinya…

Beberapa orang berpendapat masa-masa usia SMA merupakan masa paling menyenangkan sekaligus krusial dalam penentuan langkah seseorang di masa mendatang. Beruntung saya berkenalan dengan Mapasi pada titimangsa tersebut.

Himpunan Pecinta Alam Manggala Paksi (ya, itu Manggala yang sama dengan Manggala pada nama belakang jagoan saya -Jenar Ali Kahfi Manggala) saat ini tengah vakum. Dan ada wacana untuk kembali membangkitkan dan mengaktifkan Mapasi kembali.

Penting kah? Krusial kah? Urgent kah? Untuk mengembalikan dan membangunkan Mapasi di rumahnya di Gardujati 20?

Saya tidak tahu persis, tapi yang jelas berkumpulnya kami semua saat itu, 27 Desember yang lalu, telah membuat hidup saya lebih antusias, bergairah dan berwarna. Dan Mapasi Reborn, saya kira akan menjadi kelahiran kembali diri saya.

HIDUP MAPASI!!!

Pondok Rajeg-Nunukan, Januari 2015

Tanbihat:

Oya kami dibagikan kaos saat itu, kaos jingga dengan logo Mapasi menempel di dada kiri. Kami semua memakainya dengan bangga dan semangat. Itu adalah kebanggan dan semangat yang sama dengan bagaimana kami mematut diri di depan cermin saat mengenakan baju lebaran baru, saat kecil dulu.


Wiradika

WiradikaSaya teringat bagaimana pertemuan terakhir saya dan Dika: pada suatu siang yang bergegas, di sela pekerjaan yang menumpuk dan di antara waktu rapat yang ketat, Dika masih menyempatkan untuk sekedar mengunjungi kami yang masih dalam kebahagiaan tak terkira karena kehadiran Layla.

Perpisahan kami terjadi di tempat parkir RSIA Muhammadiyah Taman Puring, kami saling bertukar peluk seraya berjanji untuk sesegera mungkin kembali bertemu dan melanjutkan apa yang biasa kami lakukan semenjak kuliah dahulu: nongkrong alakadarnya. Sebuah janji yang tak akan mungkin bisa ditepati, karena beberapa waktu kemudian, Dika akhirnya pergi.

—Ah, tidak. Dika tidak pergi, dia hanya pulang.

Tidak terbayangkan, sebetulnya, bahwa kami dapat menjadi lumayan karib, mengingat kali pertama kami bertemu, dulu, medio 2001, pada saat ospek kampus: saya menganggap dia logay—loba gaya (banyak gaya) dan dia menganggap saya legeg—belagu.

Perlu diingat, memang, awal mula masa perkuliahan, apalagi merupakan sebuah perantauan pertama, mayoritas setiap kami berupaya untuk mencoba menunjukkan eksistensi dan memandang setiap orang dengan tingkat kewaspadaan seperti petugas siskamling. Penuh telisik dan selidik, sekadar mengukur-menebak-mereka-menduga setiap orang yang datang.

Ternyata, tebakan dan dugaan saya meleset, walaupun tak sepenuhnya keliru. Dika, bagaimanapun, selalu loba gaya; bicara ceplas ceplos, kadang tanpa basa basi dan seringnya tanpa tedeng aling-aling langsung menusuk ke arah sasaran.

Dan justru disitulah hebatnya dika, dengan ke-logay-annya itu, Dika merupakan salah satu kawan yang memiliki nilai sosial yang paling besar: daya jelajah pergaulannya luas, tempat nongkrongnya bertebaran, berbanding lurus dengan jumlah kawannya.

Seringkali, bahkan, ketika kami sedang bepergian bersama, perjalanan kami sedikit terganggu untuk mengakomodasi keinginan Dika untuk berhenti sejenak barang dua jenak ketika melewati suatu tempat dimana terlihat kawannya. Dika pasti turun untuk sekedar bertanya kabar sambil menghabiskan satu atau dua batang rokok.

Cukup menyita waktu memang, apalagi ketika perjalanan kami dikejar oleh tenggat yang semakin merapat. Tapi bahkan, bagi dika, sekedar say hi dan bertanya kabarpun terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja.

Mungkin bagi Dika, dia tidak tahu persis apa arti kata silaturahmi, tapi nyatanya, dalam penerapannya di kehidupan, dia sudah melakukannya secara total.

Dari situlah kita akan mafhum mengenai bagaimana cara Dika menuju ke tempat peristirahatan: diantar oleh ratusan kawan, kerabat,  handai taulan dan keluarga, sebuah pemakaman yang akan membuat kita semua iri dan mungkin akan membuat kita bergumam: “seperti inilah saya ingin dimakamkan”.

Pun demikian dengan warga sekitar kompleks pemakaman Kebon Pedes juga barisan nisan yang berada di antara kuburan Dika, mungkin tidak hanya akan berkata nyinyir “ada lagi orang yang mati”—seolah kematian hanyalah sebuah cacah statistik, melainkan “Seseorang telah tiada”ketika melihat keranda yang mengangkut jasad Dika datang.

Ya, itu Dika, sahabat kami. Wiradika, saudara kami. Dika yang serius dalam mengerjakan sesuatu, Dika yang secara total menjalankan prinsip fight and fun, Dika yang garing dalam bercanda, Dika yang melaksanakan tugas dengan tanggung jawab yang penuh, Dika yang pandai menempatkan diri dan tentu saja Dika yang luar biasa rapi dalam manajerial, berbanding terbalik dengan tulisan tangannya.

Kepergiannya yang tiba-tiba memang meninggalkan segurat luka terutama mengingat bahwa Dika pulang tepat satu minggu sebelum ulang tahunnya ke 28, yang berarti hitungan usia berhenti di 27. Ya, Dika bergabung bersama 27 club, bersama dengan Jim Morisson, Kurt Cobain, Jimi Hendrix juga Janis Joplin: deretan manusia kreatif yang menjadi salah satu kosakata perbincangan kami dalam ritual nongkrong dan diskusi.

Kenyataan itu yang membuat kami bertanya apakah memang kehidupan hanya berhenti hingga usia 27 dan sisanya hanya repetisi belaka?

Entahlah, yang pasti bagi kami, Dik, kau telah menjalani kehidupanmu dengan sebaiknya dan selayaknya. Dan yang bisa kami lakukan hanyalah mengambil pelajaran dari apa yang telah kau tinggalkan di kantin Kornita, di laboratorium Ekologi, di kampus Fahutan, di Gunung Walat, di Cibodas, di Telaga Warna, di Gunung Gede atau mungkin di Gunung Papandayan dan ribuan tempat lainnya.

Oya, Dik, sudahkah saya ceritakan mengenai salah satu sejarah tahlilan berkaitan dengan lokasi seseorang setelah meninggal? Konon, seseorang memiliki waktu tertentu untuk “berangkat” setelah meninggal, oleh karenanya tahlilan dibuat dalam beberapa periode : 1-7 hari, 40 hari, 100 hari hingga satu tahun sebagai penghantar bagi seseorang memasuki alam baru-nya.

Kami tak pernah tahu engkau tengah berada dimana sekarang, pasca 3 tahun lebih setelah kau berpulang, Dik, tapi yang jelas, kau akan selalu berada di hati kami.

Selamat jalan, kawan…

 

Sebakis, Borneo Utara

Juli 2014.


Buku Andi Hakim Nasoetion

Yang menyenangkan dari sebuah kunjungan dadakan pada suatu daerah adalah kejutan tak terduga yang menghampiri kita kala menelusuri daerah tersebut. Seperti halnya beberaa waktu yang lalu.

Secara mendadak, tempat memburuh menugaskan saya ke Balikpapan untuk mengikuti sebuah seminar. Bukan kunjungan pertama, memang, sudah lebih dari 10 kali saya mengunjungi balikpapan, tapi sepertinya hanya ini ada peluang kesempatan untuk sedikit berjalan-jalan. Ngaleut. Dan seperti biasa, salah satu spot favorit untuk saya kunjungi selain pasar dan tanam kota adalah jongko buku di tempat tersebut.

Info dari seorang kawan ada beberapa jongko buku di daerah pasar Klandasan, hanya sekitar 10 menit berjalan kaki dari tempat saya menginap. Dan berangkatlah sore itu, setelah seminar hari pertama selesai.

Rupanya jongko buku yang dimaksud letaknya berada di dalam pasar. Bercampur dengan penjual emas, barag kelontong, barang elektronik bahan salon. Dan pada jongko pertama setelah saya berputar-putar kukurusuk di pasar tersebut, mata saya menangkap sebuah nama tertera di salah satu buku kucel. Nama yang merupakan salah satu legenda di tempat saya kuliah dulu: Andi Hakim Nasoetion (AHN). Sempat kaget juga, buku apakah tersebut dan ketika penjual menunjukkan pada saya inilah buku yang dimaksud:

WP_001521

 

Wow, rada terkejut juga saya menemukan buku ini. Buku ini merupakan kumpulan ceramah dan khutbah AHN di beberapa tempat. Yang saya dapatkan adalah cetakan pertama tahun 1986.

Saya belum membaca buku ini, hanya daftar isi dan saya baca sekilas. Dan tentunya anda bisa membayangkan apa yang akan dibincangkan seorang guru besar statistika, sarjana pertanian juga mantan Rektor yang keukeuh memperjuangkan pemerataan pendidikan dan pembangunan dengan tetap mempertahankan keberadaan PMDK bagi siswa SMU dari penjuru tanah air untuk masuk ke IPB, dalam memperbincangkan agama. Pasti menarik.

Dan uang 25 ribu, yang saya tukarkan untuk memastikan buku ini masuk ke tas saya sepertinya masih terlalu murah. Setidaknya saya bisa melihat bagaimana suasana kehidupan keagamaan –secara sekilas, di masa ketika, rasa-rasanya, kehidupan keagamaan tidak terlalu menyebalkan seperti yang saya alami saat kuliah.

 

Balikpapan, Juni, 2014.

 

 

 

 


Hulu-Hilir

Sejauh yang saya pahami, koreksi jika saya salah, hulu dan hilir bukan sekedar perkara ruang, tempat dan posisi. Hulu bagian atas, hilir bagian bawah. Hulu adalah pangkal, hilir adalah ujungnya. Hulu adalah mula/awal dan hilir adalah akhir. Dan lain sebagainya. Sesederhana itu.

Tetapi konsep hulu dan hilir tentunya harus dipahami sebagai sebuah sistem dengan berbagai proses di dalamnya. Dalam artian, sekecil apapun yang terjadi di hulu, tentunya akan mempengaruhi hilir. Seperti sungai yang tercemar misalnya. Bagaimanapun, membenahi sungai yang tercemar, tidak bisa tidak, tentu harus disertai pembenahan hulu, bukan hanya sekedar di bagian hilir saja. Itulah yang digambarkan mengapa pembenahan Sungai Ciliwung dalam rangka penanggulangan banjir di Jakarta, harus melibatkan perbaikan kawasan hulu sungai Ciliwung yang terletak di Bo-Pun-Jur (Bogor-Puncak-Cianjur). Dan dari sanalah kita mengenal istilah ‘ekosistem sungai’.

Dalam konteks sistem dan proses itulah, maka, kita mengerti betul apa pentingnya pendidikan dalam upaya pembenahan lingkungan secara umum. Bahkan saya kira dalam bidang-bidang yang lain.

Pendidikan yang baik akan memungkinkan generasi-generasi muda, anak-cucu kita mengerti betul apa pentingnya lingkungan bagi mereka, dan akan memperlakukan bumi lebih baik dari kita. Mereka-mereka itulah sebenernya hulu kita. Hal yang tentunya harus kita benahi sembari membenahi hilir dari kehidupan saat ini, yaitu kita.

 

Nunukan, Nov 2013.


Ambu

Image

Beberapa pekan yang lalu, tepatnya 4 Juni, istri saya tercinta berulang tahun ke-30, menyusul anak saya yang genap berusia 2 tahun pada 30 Mei. Selain ulang tahun anak kami yang memang kami niatkan untuk diisi dengan pelesiran bertiga, sebetulnya kami jarang memiliki agenda khusus untuk merayakan ulang tahun di antara kami berdua, paling hanya makan malam saja di luar.

Tahun ini, kami sudah memiliki agenda untuk pelesiran bertiga, tetapi karena pabrik tempat saya memburuh membutuhkan kehadiran saya di site tepat pada saat anak dan istri saya berulang tahun, tentu saja acara itu ditunda hingga batas waktu yang-entah-sampai-kapan. Ya ada rasa kecewa tentu saja, kecewa berat, tetapi seperti layaknya tentara yang mendapat panggilan perang, saya pun harus berangkat walaupun lebih mirip dengan tentara yang gagal dalam tugas tapi tidak pulang tinggal nama: badan agak membungkuk, kepala tertunduk, lesu dan semacam ada yang hendak jebol di ujung mata.

Cukup aneh dan sedih memang ketika saat ulang tahunnya saya tidak bisa memeluk, mengecup kening, pipi dan bibirnya serta mencium tangannya. Hanya sepotong kue strawberry saja yang dapat saya kirimkan dari jauh melalui pesan-antar. Mudah-mudahan itu bisa menghibur.

Image

Waktu begitu tidak terasa. Usia perkenalan kami sudah hampir 12 tahun semenjak saya bersitatap dengannya di kampus, hingga hubungan kami makin intensif dan menikah 3 tahun yang lalu dan dikaruniai satu bidadari setahun sesudahnya. Dalam rentang waktu itu kami bersama-sama: susah bersama, bahagia bersama, berkelahi, mengasihi, berbaikan dari berkelahi, saling berbisik mesra hingga bahkan kami saling berteriak dan membenci.

Mungkin itulah mungkin riak yang harus kami tempuh. Tidak ada kata sesal, yang ada hanya upaya terus menerus saling mengenal agar kami bisa menjadi lebih baik bagi masing-masing. Bagaimanapun, Ambu dan Layla adalah inspirasi saya, sumber energi terbesar, semangat dan pendorong elan hidup saya.

Selamat ulang tahun Ambu-Layla, maafin abah yah kalau masih banyak bikin marah dan mengecewakan. kisses :*

 

Nunukan, Juni 2013


Dangdutan

images (1)

Dalam waktu yang tidak terlalu jauh, saya dan kawan-kawan menghadiri acara kantor yang semi formal: satu acara di luar kota dan satu lainnya berada di site tempat saya bergiat. Kedua acara tersebut sama-sama menghadirkan karyawan yang cukup banyak disertai berbagai arahan dari manajemen dan lainnya. Dan tentu saja yang paling ditunggu-tunggu acara semi formal seperti itu adalah acara penutupan yang biasanya diisi dengan menghadirkan musik yang oleh Remy Silado disebut dengan musik yang sangat meng-Indonesia: dangdutan.

Ya, meskipun pada suatu masa sering dicibir sebagai musik kampungan, musik kaum pinggiran bahkan oleh Benny Soebardja pernah disebut sebagai musik tai anjing, kehadiran acara dangdutan tidak pernah berada pada posisi yang salah dalam sebuah penutupan acara. Dapat membuat kolektif individu memiliki keberanian untuk bergoyang bersama kumpulan massa saya kira merupakan sebuah kelebihan dangdut. Penggemar punk rock paling taat dan juga penjaga mesjid paling militan saya kira pernah berjoget diiringi dangdut baik dalam acara khitanan, nikahan, reuni, diskusi dan berbagai acara lainnya persis seperti bagaimana office boy di kantor dan CEO berjoget bareng, walaupun tentu saja dengan goyangan yang bahkan lebih kaku dibandingkan dengan jika Chrisye berjoget dangdut.

Mengenai dangdut dan goyangan/joget, saya kira ada dua tipe yang sering terlihat dalam acara tersebut. Yang pertama adalah goyangan yang simpel (bahkan kadang hanya berupa goyangan jempol tangan) dengan gerakan yang halus dan teratur. Biasanya lagu-lagu yang mengiringi goyangan seperti ini adalah lagu-lagu dangdut yang sedikit lawas, contoh yang sepertinya cukup mewakili adalah lagu Selamat Malam-nya Evie Tamala. Jenis lagu seperti ini, yang menurut Mbah Sujiwo Tedjo merepresentasikan dangdut sebagai Blues-nya Indonesia tentu saja akan pas sekali menyertai goyangan yang simpel dari anggota badan, gerakan di tempat tidak membutuhkan ruang banyak dan tentu saja sembari memejamkan mata dengan membiarkan seluruh melodi dan nada membaluri seluruh tubuh dan berdesir bersama aliran darah dan hembusan nafas, sesekali segaris senyum tipis muncul dari bibir. Goyangan pada tipe ini membuat potensi kontak dengan sesama pegoyang lain menjadi minimal, sehingga sesaat, dunia terasa damai, tentram, gemah ripah loh jinawi.

Tipe yang kedua adalah jenis goyangan untuk lagu-lagu seperti ‘Cinta Satu Malam’, ‘Hamil Duluan’ juga ‘Sampe Puas’ dan lainnya. Gerakan yang cocok diiringi lagu ini adalah goyangan yang sedikit rusuh, gerak anggota badan maksimal dan tentu saja mengeluarkan energi yang besar.

Jika berbicara selera, tentu saja saya lebih menyukai tipe yang pertama. Tapi, apapun, bagaimanapun dangdutan selalu mengasyikan. Tidak perlu banyak hal, yang penting keberanian untuk bergoyang dari sekedar alakadarnya sampai ke arah brutal, menyumbang suara walaupun tuna nada dan harus berkali-kali terdiam untuk mencoba menyesuaikan suara dengan musik yang dimainkan. Dan siapapu itu bahkan seseorang dengan suara yang lebih berpotensi membubarkan kerumunan dibandingkan dengan mengangkat minat untuk bergoyang, seperti saya, tidak pernah ada kata gagal dalam dangdutan.

Tarik maaaaaang….!!

Nunukan, Mei 2013

ps: gambar diambil hasil googling dengan mengetikkan kata ‘dangdutan’ diambil dari archive-nya sebuah forum di kaskus.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.